Las visitas a la Escuela Verde, Milwaukee.


We are a community of self-determined learners, engaged in sustainable transformation – Escuela Verde

March 13 2015.Milwaukee.

Di hari Jumat yang cerah hangat dan ceria ini (penekanan pada HANGAT #jingrak-jikrak #58F /14C), saya berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah alternatif di Milwaukee, Wisconsin. Teman saya, Raynaldo Morales, mahasiswa PhD asal Peru mengajak saya untuk mengunjungi sekolah ini. Raynaldo banyak berkecimpung dalam community education project terkait dengan komunitas Latina/o juga Native American (Suku Indian) di Midwest area. Kami mengambil kelas yang sama semester lalu dan berkesempatan untuk mengerjakan satu project dalam satu kelompok. Saya belajar banyak dari beliau yang sudah punya pengalaman segudang dalam dunia pendidikan. Raynaldo yang dahulu adalah jurnalis di Peru, kini sedang menempuh studi PhD dual degree programs dan dalam waktu bersamaan juga bekerja di beberapa bidang berbeda. Kali ini dia ditugaskan oleh salah satu pusat penelitian di department UW Madison untuk memberikan pelatihan mengenai Film Making for community based development project. Rencananya pelatihan ini akan ia lakukan rutin hingga summer mendatang di sebuah sekolah bernama Escuela Verde.

Escuela Verde adalah sebuah Public Charter school dibawah otoritas Common Council Kota Milwaukee, yang diselenggarakan oleh TransCenter for Youth untuk level middle hingga high school (grade 7-12). Charter school adalah contoh sekolah alternatif yang memperoleh dana publik, namun di operasikan secara independen. Menurut Raynaldo, biasanya Charter School adalah sekolah privat bergengsi bagi anak-anak orang kaya. Namun Escuela Verde berbeda, mayoritas siswa di sekolah ini adalah mereka yang berlatar belakang ekonomi menengah kebawah dan anak-anak yang drop-out dari sekolah mereka sebelumnya. Sedikit latar belakang yang saya peroleh dari Raynaldo membuat saya semakin antusias melihat proses belajar mengajar mereka secara langsung.

Perjalanan dari Madison menuju Milwaukee kira-kira menghabiskan 1 jam 30 menit. Meskipun bukan ibukota state, Milwaukee adalah kota terbesar di Wisconsin. Milwaukee juga merupakan pusat industri di wilayah Midwest selain Kota Chicago. Raynaldo, Wuri dan saya meninggalkan Madison sekitar pukul 9.10 am. Sepanjang perjalanan kami ditemani dentuman hentakan musik Billboard Hits 2015 dari handphone saya. Kata Raynaldo, biar kalian tidak mengantuk silahkan putar lagu-lagu kalian. Kemudian sekitar pukul 11am tibalah kami di Escuela Verde yang jika diterjemahkan, Sekolah Hijau.

Tampak depan Escuela Verde

Basis pembelajaran di sekolah ini menggunakan model EdVisions Project-Based Learning. Pembelajaran didesain untuk mendukung ketertarikan siswa pada sistem keberlanjutan (sustainability), student-led learning dan restorasi keadilan. Bagi saya Escuela Verde merupakan gambaran sekolah yang ideal. Tidak ada ruang kelas yang tertutup, namun titik pembelajaran dipusatkan pada beberapa lokasi berbeda di dalam satu aula. Meja dan kursi diatur secara bebas dan siswa boleh duduk dimana saja.

Tampak pada gambar dibawah, suasana kelas pada saat hari perkunjungan saya. Ketika saya masuk siswa sedang terbagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan project yang mereka garap. Kurikulum diterapkan secara project based berdasarkan minat masing-masing dan sesuai jadwal kelas setiap hari.

Space sekolah dibentuk senyaman mungkin untuk proses belajar siswa, tidak ada one way teaching seperti sistem sekolah pada umumnya. Disini peran orang dewasa adalah sebagai partner diskusi dan pemberi arahan, sisanya siswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan diri mereka.

Anak-anak sedang melakukan independent reading

Dibawah ini nampak sepeda anak-anak masih digantung karena musim dingin baru saja usai! (Jingrak-jingrak lagee)

Suasana Escuela Verde

Hasil project siswa pun dibingkai dan dipajang rapih di dinding bagian depan, sehingga ketika masuk itulah yang dilihat pertama kali oleh para pengunjung. Judul project cukup eksentrik bin ajaib. Ini menunjukan anak boleh menulis apa saja yang menjadi ketertarikannya. Bukankah kenikmatan belajar adalah ketika kita sendiri memang benar-benar ingin tahu dan bukan karena disuruh? Beberapa judul project siswa antara lain “What are the effects of circle keeping and positive blogging on gossip and toxic culture within school?”, In what ways do public designated skate parks influence the perspective of skateboarders/sikkers?”, or “In what ways does offering opportunities for teen girls to learn about health affect their self-esteem and ability to make good choice?” or “In what ways does providing opportunities for teens to learn about food affect their understanding of how their food choices impacted the earth?”

Menarik sekali kan?

Beberapa pajangan hasil karya siswa

Pada hari perkunjungan kami, anak-anak diperkenalkan dengan Film Making for Community development. Anak-anak diperhadapkan pada sebuah masalah sistem pengairan pada sungai Kinnickinnic atau biasa disebut KK river. Sungai ini adalah salah satu sungai utama yang mengalirkan air ke pelabuhan Milwaukee dan bermuara di   Lake Michigan, bersama dengan sungai Menomonee dan Milwaukee. Pemerintah telah membangun jalur sungai dan air kota di sebuah kawasan padat penduduk. Setelah mendapatkan pengarahan singkat di dalam ruangan, kami pun melakukan tour ke sungai yang dimaksud.

KK River

Tampak seorang tutor sedang memberikan background masalah dan dampak pengolahan air di tepi sungai KK kepada siswa-siswi.

Kemudian tour pun dilanjutkan dengan mengelilingi perumahan sekitar sungai yang akan menjadi target project anak-anak nantinya.

Senang sekali rasanya, saya pun menyerap banyak informasi terkait permasalahan kota Milwaukee khususnya dalam penanganan banjir. Pemerintah setempat telah membangun fasilitas modern yang mampu menekan air agar tersimpan ke dalam tanah dan mengontrol jalur aliran air. Namun, kerja keras pemerintah saja tidak cukup. Perlu adanya kesadaran dan kerjasama dari masyarakat untuk bijak mengatur penggunaan air mereka. Sungai KK tergolong bersih tanpa sampah, tapi toh tetap saja perlu dikelola agar tidak menyebabkan banjir. Tujuan project ini adalah untuk membangun kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air ketika hujan turun. Jumlah curah hujan yang besar ditambah dengan volume air yang digunakan penduduk dalam aktivitas rumah tangga seperti laundry, mencuci piring, mandi, BAB, BAK dll menyebabkan lonjakan volume air di aliran sungai yang berujung pada banjir. Kesadaran masyarakat akan perlunya mengatur penggunaan air pada saat dan setelah hujan sangat penting untuk mengatasi masalah banjir ini.

Selanjutnya siswa akan diminta untuk berkelompok dan melakukan penelitian mengenai komunitas setempat secara lebih mendalam. Penelitian dimaksudkan agar mereka dapat mengerjakan project yang tepat sasaran dengan strategi penyampaian yang jitu. Dengan mengetahui karakteristik penduduk setempat, mereka dapat menyesuaikan isi, bentuk, media dan cara penyampaian pesan yang sesuai.

HUH! SUNGGUH MENYENANGKAN!

Rasa-rasanya saya juga ingin tergabung dalam project ini. Saya membayangkan apabila kelas-kelas di Indonesia seperti ini. Anak-anak diperhadapkan langsung dengan masalah di masyarakat dan diminta berpikir kritis untuk memberikan sumbangsih yang nyata. Teringat juga betapa kota-kota besar di Indonesia memiliki masalah panjang dan serius terkait banjir. Di lain situasi, ada daerah-daerah yang kekeringan dan masyarakat sulit mendapatkan akses air. Saya mendambakan ruang kelas yang terbuka, ruang kelas yang luas, seluas lingkungan hidup tempat masyarakat tinggal sehari-hari. Saya yakin anak-anak Indonesia tak kalah cerdas dan kritis dengan siswa-siswi Escuela Verde. Bahkan saya yakin tidak ada anak yang bodoh! Terinspirasi dari Marie Clay, If the Child is a struggling reader or writer the conclusion must be that we have not yet discovered the way to help him learn. Konteksnya bisa diperluas bukan terbatas hanya pada membaca dan menulis, tapi jika ada anak yang dinilai “bermasalah” secara akademis maka kesimpulannya kita sebagai pengajar yang belum menemukan cara yang tepat untuk menolong dia belajar.

Latar belakang para siswa-siswi di Escuela Verde mungkin tidak secemerlang anak-anak pada umumnya, namun terbukti bukan mereka yang bermasalah, namun cara belajar yang diterapkan sebelumnya belum tepat. Kini dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, lihat apa yang mampu mereka lakukan? Tidak melulu menghafalkan teori namun juga memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Yap, Saya percaya bahwa SEMUA ANAK CERDAS!

*PS Sori menyori, judulnya saja yang pake bahasa Spanyol isinya kagak hahaha tapi saya mau belajar bahasa Spanyol kok *janji*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s