Tidak Sendiri

March 5 2015. 6.24am. Madison. Mullins Apartment. 801

Aku belum tidur semalam-malaman. Kantuk pun sama sekali tidak melanda.

10991483_10205588214320853_9034645762376551949_o

Hmm… beberapa jam lalu … “bye guys!” seruku sambil menghempas pintu mobil sedan hitam yang berisikan 4 orang teman yang baik dan super ceria. Kami baru saja selesai bible study dan membahas kitab Matius pasal 6. Bible study ini sudah kami mulai sejak semester lalu dan masih berlanjut hingga sekarang. Berjingkat-jingkat aku melompat dan berlari kecil menyebrangi jalan, enggan tersiksa kejamnya musim dingin khas kota Madison tersayang ini. Aku berpakaian tak layak keluar rumah — celana selutut, jaket selapis dan sepatu tipis semata kaki— sehingga aku ingin secepatnya meraih pintu apartment dan menutupnya kembali rapat-rapat. Ugh, walaupun hanya beberapa detik, pertemuan langsung tanpa sehelai kain antara kulit mata kaki hingga betis dengan belaian sadis udara luar cukup meninggalkan ngilu mendalam. Bagi yang penasaran bisa dicoba sendiri masukin tangan dalam freezer, sentuh bagian dinding esnya, resapi dan tahan sekitar 10 menit. Yah itu yang lumayan miriplah sensasinya. Meskipun freezer pun suhunya masih lebih anget. (Abaikan saran ini).

Tombol lift pun ku pencet berkali-kali dengan tidak sabar, karena sesungguhnya meskipun jauh lebih hangat, aisle apartment ini pun lumayan semiriwing. Begitu terbuka akupun masuk dan menekan angka 8. Yap, aku tinggal di lantai 8. Gedung yang agak tua ini punya 10 lantai, setiap lantai punya 7 unit, dan tiap unit bisa berisi either studio or 2 bedrooms. Aku tak langsung masuk kamarku namun mengunjungi Wuri, sahabat kembar siamku karena hampir selalu dimana Wuri berada disitu aku berada. “Wuriiiii.. aku ga mau kerja tugas! aku pusingg!!!” aku melengos masuk kamar dan langsung membanting diriku diatas kasur. Teringat pembicaraan onlineku dengan professor di kelas Research Methodology ku tadi. Aku harus bikin revisi. Dia bilang aku harus bikin proposal yang seolah-olah aku akan dapat dana untuk kembali mengumpukan data di Indonesia. Karena sebelumnya aku punya 2 rencana penelitian. Satu dimana aku harus mengambil data primer di lapangan dan satunya studi literatur yang bisa aku lakukan disini saja. Setelah berkeluh kesah menumpahkan gumpalan-gumpalan beban, aku pun kemudian bergabung nonton serial drama Korea Gumiho. “Aku lagi pengen makan daging mba, makanya nonton ini” kata Wuri. Sesaat aku langsung tertawa terbahak-bahak, Wuri memang ajaib. Kadang dia tidak sadar pernyataan-pernyataan lugas nan polos yang dia keluarkan itu bisa bikin saya ngakak guling-guling bermenit-menit. Yang pernah dengar saya ketawa, pasti tau saya tidak pernah main-main kalau ketawa. Total dan destruktif. Kata Hestin sih, ketawa saya bak orang tak berpendidikan. Nanti ya aku bikin tulisan khusus tentang Wuri. Episode demi episode kami nonton, dan pada pukul 2 am kami pun menyerah pada kantuk.

Aku kembali ke kamarku, dan menggeletakan begitu saja backpackku yang berat berisi kertas-kertas jurnal dan laptop kesayangan. “Aku capek ah, tidak mau mengurusi kamu dulu!” gumamku dalam hati sambil menatap backpack biru lekat-lekat. Tapi beberapa detik kemudian aku tak kuasa menahan bujuk rayunya untuk menyelesaikan tugas itu malam ini. “Baiklah! Akan aku kerjakan malam ini juga! huh!” tekad batinku. Walhasil, aku kembali membuka laptop berlapis sarung turqoise manis yang akhirnya benar-benar aku putuskan untuk beli setelah 6 bulan berlalu. Itupun karena pada suatu hari aku menemukan segaris noda pada kulit silvernya yang mulus bersih. Tuk tak tuk tak tuk tak. Dalam keheningan, jari-jariku menari indah diatas keyboard dan finally, sent! Aku menyelesaikan revisi dan menggunggahnya di dropbox @learnuw. Selanjutnya aku meninggalkan pesan melalui email kepada sang Professor minta beliau untuk memberikan feedback secepatnya sehingga aku bisa menyelesaikan tugas selanjutnya.

Entahlah, tak seperti paper-paper lainnya, tugas ini begitu menguras emosi dan tenaga bagiku. Bukan karena materi yang susah, karena justru aku merasa sangat yakin dan cukup memiliki banyak referensi teoritis maupun penelitian sebelumnya. Aku gelisah dan terbebani karena inilah bagian dari tujuan utama mengapa aku datang kesini. Tugas lain meskipun bikin jungkir balik juga tapi aku bisa menulisnya dengan lebih lepas dan bebas. Tapi tidak dengan yang ini, aku merasa beban mentalnya yang sangat besar. Aku hanya bisa menatap kosong bayangan dilangit-langit kamar. Sesekali aku mencoba mengalihkan perhatian dengan scrolling layar hp yang malah bikin tambah mumet. Aku khawatir apakah ini memang benar yang harus aku lakukan? Apakah key tenets ini lensa tepat bagiku untuk menganalisa dan menghasilkan karya finalku nanti? Apakah aku sanggup mengidentfikasi Discourses lokal dan menyulamnya menjadi kurikulum yang relevan dengan budaya setempat seperti yang aku gaung-gaungkan selama ini? Bagaimana jika anak-anak diwilayah terpencil di NTT sana tetap tidak bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan keberadaan mereka? Bagaimana jika hasilnya tidak sedemikian indah seperti bayanganku? Bagaimana jika aku nanti tidak bisa membuktikan hipotesa penelitian atau menjawab pertanyaan penelitianku? Apakah sia-sia aku datang sejauh ini untuk belajar? Apakah aku hanya membuang-buang ratusan ribu dollar uang kuliah diprogram master ini? Bagaimana jika semua harapan itu kosong dan tidak mampu aku jangkau? Bagaimana kalau apa yang orang yakini bisa aku lakukan ternyata salah? Bagaimana jika aku pulang dengan tidak membawa apa-apa? Apakah aku gagal???… *hening mencekam.

Serbuan pertanyaan dan keraguan menyergap bagaikan gerombolan lalat bergegas-gegas menyerubungi sumber bau amis dan busuk yang mereka cium. Yah, menjijikan sih! Yaiks. Tapi itu mungkin bayangan yang aku rasa tepat menggambarkan situasi pikiranku yang dikerubungi banyak tanda tanya hitam, besar-besar, ribut dan melayang-layang. Kayak lalat sekali kan? Omong-omong soal bau amis, aku ingat dulu, aku senang sekali pergi ke Pasar Ikan di Oeba bersama Mama pagi-pagi. Kita akan memilih ikan-ikan segar yang baru saja tertangkap malamnya, ikan ekor kuning kesukaan semua orang rumah tak pernah lupa dibeli. Pernah sekali waktu aku memaksa mama membeli telur penyu yang dalam bayanganku akan aku tetaskan dirumah nanti. Mama bilang telur-telur itu tidak akan bisa menetas lagi karena sudah diangkat-angkat oleh manusia. Telur penyu itu sangat rapuh, tidak boleh disentuh sama sekali makanya sang induk mengubur mereka dalam-dalam di bawah tumpukan pasir. Aku masih ingat wajah penjual nampak prihatin dengan harapan yang tak mungkin menjadi kenyataan milik gadis kecil dihadapannya. “Sonde Mama, nanti beta kubur dong di pasir samping rumah tu, nanti dong bisa menetas!” seruku mantap dengan mata berbinar-binar sambil membayangkan bayi-bayi penyuku berlarian-larian dengan ceria. Sang mama yang selalu membiarkan anak-anaknya belajar melalui pengalaman pun setuju untuk membeli telur-telur, yang ia sudah tau dengan pasti akan berakhir membusuk di tempat sampah. Mungkin waktu itu mama mau saya belajar bahwa tak selamanya apa yang saya impikan itu berhasil, saya juga harus belajar merasa kecewa. Oh, sekarang aku merindukan Mama. Wanita yang selalu berkata “Ayo, pergi, jalan kemanapun kalian mau, harus punya banyak pengalaman.” Wanita yang selalu membuka ruang seluasnya bagiku untuk belajar dan memelukku jika aku gagal, Yang selalu percaya bahwa aku bisa dan mampu. Yang tidak pernah marah dan menyalahkanku kalau aku mencoba dan gagal. Yang selalu berkata, “Mey pasti bisa, Tuhan Yesus pasti tolong.”

Aku mengirim pesan di watsapp untuk Mama dan Caliesta semalam,

“huaaaa…

tugas banyak

Son sanggup.”

________

Kemudian langsung dibalas
Caliesta : “semangat! Don’t give up!

Mama : “Ayooo… Meyyyyy… Semangat….

Berdoa dan memuji Tuhan Yesus selalu

minta hikmat …. “

dan hanya ku balas singkat “… iya …”

***

Aku baru mulai merasa kantuk jam 8.00am tadi, dan akhirnya lelap tertidur.

Tulisan ini aku lanjutkan sore ini dengan keyakinan bahwa dengan menuliskan apa yang aku rasakan akan membuat aku merasa lega. Aku juga ingin berpesan pada diriku, bahwa aku pernah mengalami masa-masa berat seperti ini. Supaya aku tau dan ingat kalo tanpa orang-orang disekitarku yang selalu ada dan mendukungku, dan tanpa Dia yang senantiasa memberikan kekuatan dan penghiburan, mungkin aku sudah menyerah.

Dan untuk tugas penulisan proposal penelitianku, aku sekarang sedang menunggu feedback dari professor, malam nanti aku punya janji bertemu dengan Richard, writing consultan yang memberikan konsultasi tentang tulisanku secara gratis. Tuh kan, banyak orang yang mendukungmu! Kamu tidak berjalan sendiri, Mey.

Keep moving!

School of Education Building, UW-Madison

School of Education Building, UW-Madison

Advertisements

10 thoughts on “Tidak Sendiri

  1. My dear what ever we face here, keep moving forward. The Almighty who has brought us here will walk with us and fight our battle. Keep praying for one another, God is with us.

    I miss your total laugh hahaha jadi ingat masa2 kos bareng 🙂
    Semangat say, we love you :*

  2. betul sekali pasti akan sangat merindukan masa-masa belajar. Sepertinya harus lanjutkan ke jenjang berikutnya nih hehe. Thanks PRESTASI 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s