Bertahan menghadapi Winter

Kata mama saya termasuk lumayan tahan akan dingin. Di rumah dulu, ketika suhu cukup dingin (terpengaruh musim dingin dari Australia), saya tetap akan menyalakan AC di kamar saya hingga pagi. Mungkin karena itulah juga saya cukup pede ketika dulu ada orang Amerika yang terperangah begitu tahu tempat tujuan saya untuk melanjutkan studi adalah Wisconsin. Bagi orang Amerika yang sudah terbiasa memiliki empat musim (kecuali mereka yang berada di wilayah west coast dan south), Wisconsin tetap merupakan daerah yang sadis ketika musim dingin. Yah, itu percapakan setengah tahun lalu dengan beberapa orang Amerika yang datang ke Indonesia.

Dan disinilah saya sekarang, 13 Agustus 2014 tepatnya saya menginjakan kaki di Kota Madison tercinta. Kala itu masih dipenghujung musim panas. Cuaca sangat menyenangkan! Hampir setiap hari saya selalu bersepeda keliling kota dengan pakaian yang minim. Namun itu beberapa bulan lalu. Kini saatnya winter. Namun, saya cukup bangga dengan tubuh kecil ini. Tak disangka saya lumayan tahan banting. Meskipun ada hari dimana nafas saya sesak dan hampir susah bernafas karena tekanan di paru-paru sedemikian kuat. Ataupun ujung jari-jari tangan, yang memang bagian paling lemah, memerah dan serasa hampir pecah. Sore tadi misalnya, saya bisa jogging dengan hanya memakai legging satu lapis, tanktop dan satu jaket, dan sepatu olahraga berkeliling state street, disaat orang lain yang saya temui tetap mengigil kedinginan didalam winter coat mereka yang super fluffy. Yah, saya tidak sesakti itu juga kok. Saya berani begitu karena saya sudah memprediksi waktu saya di luar hanya sekitar 10 menit setelah itu saya pergi ke Gym. Masuk Gym pun telapak tangan sudah memerah dan sakit seperti tertusuk-tusuk.

Entah mengapa, tapi saya suka kondisi ini. Rapuh dan Lemah. Kondisi dimana saya sadar betapa lemahnya saya. Betapa saya tidak sanggup bertahan hanya beberapa menit saja diluar. Betapa saya tak mampu melawan kuatnya alam ini. Betapa besar Dia yang mengendalikan segala sesuatu. Salju yang dahulu nampak sangat indah dan menyenangkan di film-film yang saya tonton ternyata juga kejam dan tak selalu indah. Yap! Jangan naive hanya ingin menerima hal-hal yang indah saja, karena sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang tidak dirasakan tanpa kesedihan, tidak akan ada tawa jika tak ada tangis dan tidak ada baik jika buruk sirna. Segala sesuatu ada waktunya.

Meskipun masih 2 bulan lagi musim dingin ini akan terus menyelimuti Wisconsin, saya memutuskan untuk mencintai itu. Saya ingin mencintai dan menikmati segala sesuatu pada waktunya.

DSC_0941

Snow Angel!

DSC_0961

DSC_0962

Yihaaaaaaa

DSC_0990

Thanking God for this beauty nature

DSC_0966

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s