Patiently Waiting 5 – Finished

Ditulis pada 22 September 2013

Baru saja rasanya aku lelap dalam tidur, namun tiba-tiba aku terjaga tanpa sebab. Ohh… mungkin kantung kemihku penuh minta dikosongkan dengan setengah sadar aku beranjak ke kamar papa untuk meraih toilet terdekat, namun tidak juga, hanya sedikit yang keluar. Heran juga kenapa saya bisa terbangun, tidak ada mimpi buruk, suhu dikamar sejuk, sprei yang baru diganti dua hari lalu masih membelai lembut, nyamuk pun tak mondar mandir. Kulihat jam di handphone  4.10. Hmm lumayan cepat, kadang ketika ada waktu saya terjaga biasanya sekitar jam 5 karena burung-burung yang ramai sudah mulai berkicau merdu. Rumahku yang dikelilingi pepohonan lebat menjadi tempat yang nyaman untuk mereka naungi. Aku mencoba tidur lagi, karena aku berencana ikut ibadah pagi, bisa-bisa aku tidur digereja nanti. Tapi mataku tak urung padam. Kemudian aku sadar perutku aga lapar, aku beranjak lagi kali ini menuju ruang makan, tak ada apa-apa disana, eits tapi ada pisang yang sudah menguning, ku jejalkan 3 buah dengan harapan perutku tak macam-macam lagi dan aku pun bisa nyenyak. Aku pun mencoba tidur kembali. Alih-alih tidur, pikiranku pun mulai memikirkan tentang hidupku. Jam-jam seperti ini merupakan waktu kritis sepangjang hari. Sering ketika bermimpi buruk aku terbangun, dan walaupun sudah terjaga aku masih separuh sadar, sehingga ketakutan dalam mimpi itu pun nyata, atau ketika aku begitu takut dengan hal yang aku tidak ketahui, penantian akan sesuatu yang tidak kunjung jelas, ataupun masalah-masalah yang belum terselesaikan. Pada jam yang normal, biasanya saya mampu mengcounter balik dengan logika juga dengan menyatakan janji-janji Tuhan dalam firmanNya. Namun pada waktu-waktu seperti itu, saya merasa sangat rapuh dan tak berdaya. Saat dimana separuh ketidaksadaran saya masih mendominasi. Kadang hal yang sangat-sangat mengkhawatirkan dan mengganggu saya pada waktu subuh, ketika pagi hari datang malah terasa lucu. Saya heran mengapa subuh tadi saya benar-benar takut pada hal sepele seperti itu ????

Namun akhirnya saya sadari, itulah saat terlemah saya. Saat saya paling tidak waspada dan dengan gampang diserang. Berkali-kali seperti itu akhirnya saya tau, justru itulah saat paling tepat saya harus membangun mezbah penyembahan dan doa.

Dan subuh tadi aku pun mulai berdoa dan membangun mezbah penyembahan kepada Tuhan. Sayup-sayup aku nyanyikan sebuah lagu,

Seringku tak mengerti, jalan-jalanmu Tuhan, Bagai di belantara yang kelam

Tanpa seribu tanya namun tetap percaya, jejakmu Tuhan sungguh sempurna

Ajarku memahami semua yang Kau ingini, agar hidupku puaskan hatiMu

bagiMu aku rela, sepenuh hati menghamba serahkan diri, genapi karyaMu

 

Betapa Tuhan yang aku sembah hidup. Dia ada selalu berjalan bersamaku setiap waktu.

Aku pun menangis sejadi-jadinya … Bagaimana mungkin Tuhan mengubah keadaanku dalam waktu yang sedemikian singkat. Dia mengijinkan aku berkubang dalam ketidakpastian, dia mengijinkan aku untuk sering  terbangun tengah malam karena ketakutan akan masa depanku, ia mengijinkan malam-malam aku menangis sendirian bahkan tanpa alasan yang jelas, Dia mengijinkan aku melewati masa tersulit dan mengerikan, Dia mengijinkan kegagalan demi kegagalan aku terima, Dia mengijinkan aku hilang pengharapan dan merasa aku paling bodoh dan tidak berdaya, Dia mengijinkan aku merasakan bagaimana janji-janji manusia tidak dipenuhi.

Kemudian dengan bersimbah airmata dan terseok-seok aku belajar menyerahkan secara total seluruh mimpi dan harapanku, menyerahkan hidup dan masa depanku, tidak ada yang bisa ku pegang dan andalkan, dengan berkata Aku Siap Tuhan, apapun yang kau kehendaki dalam hidupku, Aku siap.

Aku siap Tuhan, aku siap Tuhan jika Studi Master bukan menjadi bagian dalam rencanamu, jika memang aku harus berhenti menjadi Dosen dan Engkau membawa aku pada pekerjaan lain, aku siap Tuhan jika aku harus hidup jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan sekarang, aku siap, meskipun akan menyakitkan namun aku tahu Tuhan Sang Penulis Hidupku telah menuliskan cerita terindah tentang Hidupku,  biar kehendakMu jadi dalam Hidupku.

Itu yang Engkau inginkan Bapa…

Engkau mau aku tahu dan kenal Engkau lebih dalam, bahwa hanya Engkau satu-satunya yang selalu ada bersamaku dalam saat-saat paling mengerikan, bahwa dalam kegagalan Engkau tetap Tuhan yang penuh kasih karunia, Engkau bawa aku dalam hubungan yang jauh lebih dalam bahwa Tuhan tidak  hanya menunjukan KASIHnya lewat penjagaan, pemberi berkat, pelindung, pembuat mujizat. Namun juga lewat penderitaan dan kegagalan. Ia akan berjalan bersamaku dalam masa-masa paling kelam sekalipun.

Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula. Ayub 5:18

Aku terus menangis, merasa mengapa Allah yang sedemikian Besar dan Berkuasa mau repot mengajari aku tentang hal ini? Mengapa, Mengapa aku begitu penting di mataNya? Mengapa hanya untuk merobohkan kekerasan hati dan kesombongan serta hal-hal yang tidak aku sadari Tuhan mau merancangkan skenario agar memproses aku sampai aku sadar?

Dan ketika Tuhan ijinkan aku akan menempuh master di United States, aku hanya bisa menangis. Ia Tuhan yang hidup, bahkan meskipun jika ada pembatalan ataupun hal lain yang membuat aku tidak bisa berangkat, TUHAN tetap baik !

Yang paling PENTING Bukan tentang berkat yang dia berikan buatku tapi DIA sendiri berjalan bersamaku menuntun aku langkah demi langkah dalam hidupku.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s