KESIAPAN SEKOLAH ANAK USIA DINI

Sepanjang beberapa minggu yang lalu, kerapkali saya menemui beberapa anak berpakaian tradisional NTT di tempat-tempat umum Kota Kupang. Mereka terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan pakaian tradisional dengan beragam model dan kelengkapannya. Setelah dicari tahu lebih lanjut, anak-anak ini ternyata baru saja selesai menghadiri wisuda kelulusan PAUD tempat mereka belajar dan bermain selama kurang lebih dua tahun tahun ajaran.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan lembaga sekolah formal bagi anak usia 2-6 tahun ini memang semakin menjadi perhatian pemerintah juga berbagai Lembaga Swadaya Masyarakan baik Nasional maupun Internasional. Berbagai program pelatihan dan intervensi bagi guru dan siswa diselenggarakan demi menaikan kualitas sumber daya manusia juga pelaksanaan proses belajar. Masyarakat mulai sadar bahwa usia emas (golden age) anak yakni 0-6 tahun perlu mendapatkan stimulasi yang tepat agar anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal serta terbentuk menjadi pribadi yang berkarakter. Selain itu PAUD juga merupakan wadah untuk menyiapkan anak memasuki dunia sekolah dasar. Kesiapan sekolah inilah yang dapat menjadi evaluasi akhir terhadap keberhasilan hasil belajar siswa pada tingkatan PAUD.

Salah satu fenomena yang terjadi di dunia pendidikan adalah diberlakukannya tes membaca, menulis dan berhitung sebagai persyaratan masuk bagi pendaftar Sekolah dasar. Hal bukan menjadi hal baru lagi di Kota Kupang. Dasar pengukuran intelegensi maupun kemampuan berbahasa anak tidak ditentukan oleh lancar tidaknya seorang anak dalam membaca, menulis ataupun berhitung (calistung). Potensi intelegensi anak dilihat berdasarkan pengontrolan diri dan motivasi anak, bagaimana kepercayaan diri anak, rasa ingin tahu, antusiasme, mampu bergaul dan sebagainya sedangkan kemampuan berbahasa ditandai dengan kemampuan mendengarkan, pelafalan kosakata juga kesadaran dan kepekaan dalam memahami cerita. Anak tidak seharusnya dituntut untuk harus dapat membaca, menulis dan berhitung setelah lulus PAUD. Namun jika ada anak yang telah memiliki kemampuan tersebut secara pribadi pun perlu mendapat dukungan dari pengajar dan keluarga. Ketika anak mendapat tekanan harus mampu membaca maka anak mengalami stres dini dan tidak antuasias dalam belajar. Kerapkali anak menangis ketika dipaksakan untuk membaca.

Sesuai tahapan perkembangan anak, pada tingkat PAUD anak hanya diajarkan pengenalan huruf dan angka saja. Nantinya ketika berada di tingkat Sekolah Dasar barulah anak belajar konsep utuh membaca, menulis dan berhitung. Sehingga kewajiban membaca, menulis dan berhitung sebaiknya tidak diterapkan ketika anak masih di PAUD begitu pula dengan tes membaca sebagai persyaratan masuk sekolah dasar. PAUD semestinya menjadi tempat anak untuk melakukan hal yang ia senangi tanpa dibatasi. Anak diijinkan untuk mengekplorasi potensi, bakat minat, dan kreativitas masing-masing. Bahkan lebih tegas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam PP 17 No.2010 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan kembali mengeluarkan larangan sekolah menerapkan tes membaca, menulis dan membaca (Calistung).

Terdapat paling tidak 5 indikator yang dipakai untuk mengukur kesiapan sekolah anak menurut National Education Goals Panel antara lain Kesejahteraan Fisik dan Perkembangan motorik meliputi status kesehatan, pertumbuhan, dan ketidakmampuan; kemampuan fisik seperti motorik halus dan motorik kasar, serta kondisi kelahiran, Perkembangan sosial dan emosional yang merupakan fondasi bagi perkembangan intelektual meliputi kepercayaan, Pengontrolan diri dan motivasi. Intelegensi dan pencapaian di sekolah tidak bergantung semata-mata pada pengetahuan faktual, kemampuan membaca, melafalkan huruf, atau pengenalan bilangan dan warna. Lebih lanjut, sebagai tambahan pengetahuan dan keahlian, kesuksesan anak yang berasal dari berbagai latar belakang, bermuara dari rasa ingin tahu, kepercayaan diri, sadar akan perilaku yang diharapkan. Anak yang berhasil akan merasa nyaman untuk meminta bantuan, mampu bergaul dengan orang lain, dan tertarik untuk menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk menguasai pengetahuan yang baru. Pendekatan untuk belajar Kecenderungan untuk menggunakan keahlian, pengetahuan dan kapasitas dengan antusias, rasa ingin tahu dan ketekunan terhadap tugas, termasuk temperamen, pola dan nilai budaya. Perkembangan Bahasa meliputi bahasa verbal (mendengar, berbicara dan kosa kata) dan literal (kesadaran, kepekaan dalam cerita) Kognisi dan Pengetahuan Umum Pengertian akan persamaan, perbedaan, asosiasi, bunyi huruf, mengenal bentuk, hubungan jarak, konsep angka.

Beberapa daerah telah dengan tegas menerapkan peraturan ini. Jika didapati ada Sekolah Dasar yang melakukan tes Calistung maka sekolah tersebut akan diberi sangsi tegas. Hal ini semata-mata untuk melindungi anak-anak yang kita sayangi dari kewajiban pendidikan yang tidak sesuai dengan perkembangannya. Bagaimana dengan kota kita ? Apakah masih terdapat praktek tes Calistung ? Mari kita kawal bersama peraturan pemerintah ini.
Biarkan anak bertumbuh dan berkembang secara natural sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimiliki. Masing-masing anak cerdas dan unik kewajiban kita sebagai orang dewasa adalah memastikan ia bertumbuh dan berkembang ke arah yang benar.

If you want one year of prosperity grow grain, If you want 10 year of prosperity grow tree, But if you want 100 years of prosperity grow people (Pepatah Cina Kuno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s