Doa Seorang Oma

Oma genap berusia 97 tahun, tepat pada tanggal dua November nanti. Itu artinya jika masih diberikan Tuhan umur yang lebih panjang lagi, 3 tahun kedepan, oma akan mencapai usia satu abad. Sebuah rentang usia manusia yang sangat panjang menurut saya. Nama lengkap oma, Yuliana Paulina Naomi. Hmm sebenarnya saya pun tidak begitu mengenal sosok oma secara langsung. Sejak kecil, kami hidup terpisah. Saya beserta papa dan mama juga saudara kandung saya tinggal di Kupang. Sedangkan oma (sepeninggalan alm. Opa) yang sempat tinggal di Kupang memilih untuk menghabiskan masa tuanya di Lalao, Pulau Rote. Ditanah leluhur katanya. Oma pernah bilang, jika ia meninggal, ia ingin meninggal di tanah tempat ia berasal. Disanalah ia bersikeras untuk tinggal sendiri di rumahnya.

Pengenalan akan diri oma hanya terjadi lewat pertemuan setahun sekali pada ulang tahun oma, setiap tanggal 2 november juga berdasarkan penuturan keluarga yang hidup bersama dengannya. Oma digambarkan sebagai sosok istri yang keras dan juga ibu yang sangat tegas kepada anak-anaknya. Ia memiliki displin yang tinggi. Singkatnya, Ia membesarkan anak-anaknya khas seperti budaya Orang Rote pada umumnya (baca : Child Rearing pada Orang Rote Pribumi). namun bukan itu yang akan saya bahas lebih lanjut. Oma pada saat ini telah di bawa ke Kupang, dengan mempertimbangkan kemampuan fisik oma yang sudah jauh menurun. Sebuah pencapaian besar karena selama ini oma tidak pernah mau di bawa ke Kupang.

Peristiwa sore tadi ketika saya mengunjungi oma di rumah Papa Daud dan Mami Nel menggetarkan hati saya dan menguakkan ingatan saya beberapa tahun yang lalu. Saya lupa kapan tepatnya, tapi peristiwa tersebut terjadi ketika saya masih SD. Sekitar 13 tahun yang lalu. Waktu itu, Papa, saya dan Okky mengunjungi oma di Rote. Oma masih segar bugar kala itu. kami selalu disambut dengan senyuman bahagia serta cium hidung yang bertubi-tubi. Sampai berganti istilah, bukan cium hidung tapi ulik hidung, karena hidung kami dicium gemas bagaikan cabe yang lagi di ulik (pantes aja yak idung saya begini .. hehehe lol). Ia selalu menyiapkan berkaleng-kaleng kue ublin (sejenis crackers) untuk cucu-cucunya yang datang dan siap melahap habis berapa pun banyaknya ublin itu. Padahal sekedar informasi saja, ublin-ublin itu hanya bisa dibuat 2 buah dalam sekali pemanggangan, bayangkan berapa lama waktu dan tenaga yang oma habiskan untuk membuat berkaleng-kaleng ublin tersebut. Tapi demi cucu-cucunya oma rela begadang.

Okey, lanjut pada ingatan saya. Waktu itu, ketika bangun pagi dan beribadah bersama, papa kemudian bersaksi. Papa bersaksi dengan suara bergetar (jarang banget papa melow kayak gini, pikir saya waktu itu :p) papa bercerita, subuh tadi ketika kami semua terlelap, oma bangun dan berdoa. Papa pun awalnya setengah sadar mendengar ada suara. Namun seketika papa pun sadar bahwa itu adalah suara oma yang sedang berdoa. Papa pergi melihat oma, dan mendapati oma sedang berlulut di lantai dan berdoa mengucapkan nama dari anak-anak hingga cucu-cucunya satu per satu serta beban pergumulan yang sedang dihadapi. Anak kandung oma berjumlah 7 orang, 6 orang anak mantu dan cucu 24 orang, dan 31 orang cicit (kalo ga salah hitung). Papa bilang ternyata , setiap hari oma selalu bangun pagi-pagi benar dan berlulut di samping tempat tidurnya untuk berdoa. Saya pada waktu itu belum begitu peduli apa yang oma lakukan. mungkin menurut saya waktu itu, wajar saja jika oma mendoakan keturunannya. Memang tugas oma sebagai seorang oma ya begitu. mungkin saja nanti kalau saya sudah menjadi oma, saya akan melakukan hal yang sama. Demikian pikir saya waktu itu.

Namun sore tadi, ketika selesai membantu mama dan mami Nel, me-lap tubuh oma yang semakin renta, saya kembali memaknakan doa oma bertahun-tahun silam. Usai membantu oma berpakaian dan menyiapkan tempat tidurnya, oma pun berbaring dengan menggunakan selimut. Sebelum pulang, mama dan saya berdoa bersama oma. Saya memimpin doa, dan membantu oma untuk merekatkan jari jemarinya sebelum berdoa. Oma menutup mata, dan perlahan-lahan kata-kata doa pun terucap dari mulut saya untuk oma. Oma kini memang tidak bisa lagi berlutut di samping tempat tidurnya, sekarang untuk berdiri saja oma harus dibantu, Pendengaran oma pun menurun jika ingin berbicara harus berbisik didekat telinganya, Ia pun tidak bisa lagi menyebutkan nama anak dan cucunya satu persatu, karena ingatan oma pun sebagian besar telah hilang, oma sudah tidak mengenali orang-orang yang jarang bertemu dengannya. Saya pun tidak dikenali lagi saya sebagai cucunya. Mungkin juga doa yang saya ucapkan barusan tidak dengan jelas dapat oma dengar. Namun, saya tau dalam hatinya oma pun berdoa.

Malam ini, saya bersyukur punya oma yang seperti beliau. Kini Cucu-cucu kecil nya yang dulu sering berebutan ublin buatannya telah beranjak dewasa, ada yang sudah menikah dan punya anak, sudah bekerja, sudah lulus kuliah, dan masih menempuh pendidikan. Banyak berkat dan keberhasilan yang Tuhan ijinkan dinikmati oleh keturunannya. Saya secara pribadi merasakan itu. ada begitu banyak hal yang selalu Tuhan sediakan ketika dibutuhkan. Saya percaya semua itu karena doa-doa yang dipanjatkan seorang wanita yang setiap hari, mengambil waktu bangun di kala hari masih gelap untuk mendoakan anak cucunya satu per satu. Setiap kerutan diwajah mu mengajarkan betapa banyak hal yang sudah Tuhan buat didalam hidupmu. Terimakasih untuk doamu oma.

Grandmothers hold our tiny hands for just a little while…..but our hearts forever. A grandma is warm hugs and sweet memories. She remembers all of your accomplishments and forgets all of your mistakes. (Barbara Cage)

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:4)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s