Cross Culture Reflection

Saya bersuku bangsa Rote, kedua orangtua saya berasal dari suku tersebut, sehingga dalam darah saya mengalir darah dari suku bangsa tersebut. Walaupun demikian keduanya mempunyai pengalaman budaya yang berbeda. Jika ada pertanyaan Rotenya, Rote mana? Maka saya akan sedikit membutuhkan waktu untuk berpikir agar dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan Rote bagian manakah yang merupakan daerah asal saya.

Papa saya merupakan percampuran dari daerah Ringgou dan Bilba, keduanya secara geografis terlatek pada Rote bagian Timur atau biasa disingkat Rote Ti, sedangkan Mama merupakan percampuran dari Bilbah, Rote Ti dengan Rote bagian Barat, sebuah daerah berpantai indah, incaran para peselancar International, Delha. Masa kecil ayah saya sampai menamatkan Sekolah Lanjutan Pertamanya ia habiskan di sebuah daerah bernama Eahun ini terletak di Rote Timur, kemudian beliau SMA di Kupang dan merantau ke Pulau Jawa tepatnya berkuliah di IKIP Bandung. Berbeda dengan itu, Mama saya adalah seorang Perempuan Metropolitan yang sejak lahir hingga dewasa tinggal di Ibukota negara, Jakarta. Ia dibesarkan dalam lingkungan militer. Opa saya adalah seorang Perwira Angkatan Laut. Singkat cerita, mereka berdua dipertemukan di Jakarta, saling Jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Mama saya meninggalkan kedua orangtuanya dan menetap di Kupang mengikuti suaminya yang pada waktu itu telah diangkat menjadi Kepala Sekolah sebuah Sekolah Dasar Luar Biasa. Yah, papa saya mengambil spesifikasi jurusan Pendidikan Luar biasa. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang membuat saya bangga padanya. Saya hanya sedikit membandingkan bagaimana kematangan teman-teman laki-laki saya ketika mereka menamatkan SMA, banyak diantaranya yang masih kebingungan hendak melanjutkan kemana, jurusan apa dan pertimbangan-bertimbangan lain yang menurut saya kurang penting. Misalnya atas dasar Jurusan mana yang nanti bisa punya banyak uang, terlihat keren, dan sebagainya. Papa saya telah mampu menentukan sebuah jurusan, yang bahkan saya rasa begitu menarik dan kurang punya prospek masa depan yaitu mengurusi pendidikan anak-anak dengan keterbelakangan mental. Mama saya, sejak ke TK sampai SMA bersekolah di Sekolah Katolik dan melanjutkan ke Jurusan Pertamanan, Landskape Trisakti Jakarta.

________________________________________________________

Dalam didikan kedua orang inilah saya tumbuh. Beberapa sifat saya menurun dari keduanya. Misalnya kegilaan saya berorganisasi di Kampus, menurun dari Papa. Beliau dahulu adalah aktivitis mahasiswa di Kampusnya yang juga gemar melakukan banyak pergerakan mahasiswa, ia juga dikenal kritis dan cerdas khususnya dalam bidang matematika. Sebagai pendatang baru di dunia pendidikan Kota Kupang, ia cukup punya banyak musuh. Ini karena ia sering menulis di berbagai media massa mengenai kritik terhadap sistem pendidikan Kota Kupang.. Dari mama, saya belajar bagaimana menjadi seorang perempuan yang kuat serta lembut. Dia adalah perempuan luar biasa, rela melepaskan peluang besarnya untuk berkarir dan memilih mengasuh total keempat anaknya.

________________________________________________________

Saya lahir hingga besar di Kota Kupang, Nusa tenggara Timur yang belakangan sedang Booming dengan “Sekarang sumber air su dekat”-nya juga predikat Kota TerKorup di Indonesia tahun 2009. Konon katanya stuktur kepribadian serta karakter penghuninya berbanding lurus dengan kontur wilayah geografisnya. Keras seperti batu karang. Budaya Rote asli kurang saya rasakan.

Kupang merupakan multikultur. Daerah pencampuran segala budaya daerah di Nusa Tenggara Timur. Dengan mudah ditemui orang dengan suku Sabu, Sumba, Flores, Sabu, Alor, Timor dan juga Rote yang berbeda dalam banyak hal seperti ciri fisik tiap orang, Dialek, bahasa Ibu, pola perilaku, wilayah pemukiman dan sebagainya. Kesemuanya telah berasimilasi membentuk kebudayaan baru, budaya Kupang, budaya batu karang. Mulai dari cara berbicara sampai berperilaku. Ada kata-kata bijak khas Kupang, “lebih baik beta mati dari pada harga diri jato”. Harga diri sangat dijunjung tinggi terutama nama baik keluarga serta asal. Penduduk NTT mempunyai marga yang dimiliki secara turun temurun. Rasa kekeluargaan sangat tinggi. Istilah “Botong pung orang” atau “katong semua basodara” salah satu artinya menunjukan sebuah keharusan dalam menolong misalnya dalam hal membantu saudara yang sedang kesulitan, milik mu adalah milik ku, loyal namun mempunyai gengsi yang tinggi. Kupang sendiri merupakan bagian dari Pulau Timor, suku aslinya berbahasa tetun, suku Timor. Berciri fisik hitam dan berambut keriting. Ini seringkali penyebab penyangkalan orang-orang bahwa saya berasal dari Kupang. Telah terkonstruksi di kepala mereka bahwa orang Kupang itu Hitam dan berambut keriting (orang Timor red.). Namun di Kupang tidak hanya masyarakat NTT saja, banyak masyarakat pendatang misalnya Jawa, Padang dan Tionhoa yang dikenal dalam beberapa sektor hidup masyarakat salah satunya Ekonomi. Sebagian besar pedagang mulai dari jajanan ringan hingga pertokoan dikuasai pendatang, jarang seorang penduduk asli yang bergerak dalam bidang ini. Sebagian besar lebih memilih duduk di pemerintahan menjadi pegawai negri sipil.

Saya melihat etos kerja masyarakat Kupang kurang dibanding pendatang. Orang Jawa misalnya pandai mengambil kesempatan dengan menjual barang-barang maupun makanan inovatif, mempunyai etos kerja tinggi serta bersedia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang terkadang dipandang sebelah mata seperti menjadi tukang sol sepatu, tukang rujak, dan sebagainya. Sedang penduduk asli lebih banyak menjadi konsumen.

Ketika awal masa kuliah perkuliahan saya di Universitas Kristen Satya Wacana, cukup banyak orang yang protes dengan gaya saya berbicara dan berperilaku. Dari kecil saya terbiasa mengemukakan pendapat dalam keluarga, secara terang-terangan menunjukan ketidaksetujuan terhadap sesuatu merupakan hal biasa. Sebagaian besar isi complain yang diberikan kepada saya misalnya ketika bertanya atau mengkritik terlalu pedas bahkan ada yang pernah merasa sakit hati, padahal sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Contoh lain, saya banyak menemui teman-teman yang merasa kesulitan ketika berbicara didepan banyak orang, begitu takut ketika mendapat tugas presentasi di depan kelas, kebanyakan adalah mahasiswa perempuan. Namun menyadari bahwa hal-hal demikian pun dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dalam beberapa budaya, perempuan masih sering dikategorikan orang belakang panggung yang tidak perlu kelihatan, cukup laki-laki saja serta tidak adanya kebiasaan saling bertukar pikiran maupun menyatakan pendapat dalam keluarga juga turut berkontribusi pada pemahaman nilai-nilai tersebut. Saya juga termasuk orang yang cepat akrab dengan kenalan baru, saya merasa aman-aman saja bergaul dengan siapa saja.. Anggapan “katong semua bersaudara” agaknya cukup terbawa sampai ke salatiga. Awalnya hal ini saya anggap biasa namun ada juga teman-teman lain yang cukup menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat dengan orang asal daerah tertentu.

Di sisi lain, terkadang saya cukup gregetan (tidak sabar) perilaku beberapa orang bersuku Jawa yang terkadang menurut ku terlalu lamban. Mereka kurang ekspresif seperti kami. Apalagi teman-teman perempuan yang menurut saya kadang terkesan tidak berdaya serta pasrah pada keadaan. Ketika memutuskan untuk sharing dengan beberapa teman lain, mereka kurang sependapat dengan yang katakan. Bagi mereka perilaku seorang teman saya tidak se-menyebalkan yang saya rasakan. Mungkin saya telah terbiasa berada dalam ritme hidup yang cepat. Segala sesuatu jika dapat langsung dikerjakan, segera mungkin dibereskan tanpa berpikir matang terlebih dahulu.

_______________

to be continued…

Advertisements

8 thoughts on “Cross Culture Reflection

  1. Jadi ingat Credibility materi LMKM 2008 ==> “kemampuan dalam menelanjangi diri sendiri” he11x…..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s