15 – 17 oktober, dialog kebangsaan

Day 1 Kami tiba di Surabaya pukul 5 subuh diantar oleh travel langsung didepan Hotel Bisanta, setelah menempuh kira-kira 7 jam perjalanan karena waktu check in menurut susunan acara baru akan dilaksanakan jam 11 siang kami menunggu dilobi, namun setelah itu receptionis mempersilahkan kami untuk beristirahat dikamar terlebih dahulu. Mungkin karena melihat wajah kami yang kelelahan. Sekitar pukul 12 pendaftaran ulang dilanjutkan dengan makan siang dan pukul 14.00 pertemuan perdana dilaksanakan dalam Hall Bisanta Hotel. Disana kami saling berkenalan satu dengan yang lain. Beberapa pejabat memberikan kata sambutan, dan lebih menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan ini dilaksananakan.

Sekedar kilas balik, kami ini mahasiswa seluruh Indonesia yang mewakili universitasnya masing-masing. Sebelumnya kami diselesi terlebih dahulu dengan persyaratan menuliskan sebuah karya tulis serta solusi yang dapat dilakukan dengan pilihan tema 1. Pengaruh kemiskinan terhadap nasionalisme bangsa dan Pemahaman mulitikultural terhadap keutuhan NKRI. Saya memilih topik kedua dengan mengangkat tema pendidikan multikulturalisme.

Berlanjut dengan pembahasan kegiatan acara, sebelum peserta melakukan dialog diadakan pembagian kelompok berdasarkan topik yang telah ditulis karena hasil dari dialog kebangsaan adalah berupa sebuah makalah yang merupakan hasil pertemuan pemahaman dan penggodokan mahasiswa-mahasiswa. Suguhan pengetahuan pertama yang kami terima adalah Multikulturalisme Indonesia : Jawaban terhadap kemajemukan, yang disampaikan oleh Bapak Daniel Sparringa, beliau adalah Dosen di Universitas Airlangga dan materi ini diambil dari bukunya yang berjudul “Hidup Berbangsa : Etika Multikultural”. Dalam materinya, ia meyakini bahwa multikulturalisme merupakan sebuah gagasan yang perlu diperjuangkan. Multikulralisme merupakan sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang ditandai dengan menghargai budaya lain. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari beragam kelompok-kelompok etnik dan budaya yang berbeda dominasinya di satu pihak memiliki kesanggupan untuk memelihara identitas kelompoknya dan dipihak lain mampu berinteraksi dalam ruang bersama yang ditandai oleh kesediaan untuk menerima pluralism dan toleransi (mengakui dan menghormati perbedaan).

Ada juga Indra Jaya Piliang, beliau membawakan materi Penentuan Nasib Sendiri
bagi Masyarakat Adat
. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan pemateri yang kedua yaitu Prof. Dr. Hotman F. Siahaan yang juga mengupas tuntas mengenai multikulkturalisme yang turut memperkaya variasi komponen kognitif saya. Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dengan narasumber. Sesi berikutnya adalah dilakukannya dialog masing-masing kelompok (kel. Multikultur dan Kel. Miskin) beberapa mahasiswa dipilih untuk mempresentasikan karya tulisnya.


Day 2 Pada Hari kedua, lebih banyak dibicarakan adalah mengenai kemiskinan Bangsa, tiga pemateri sekaligus yaitu Dr. Kurtubi yang membawa makalah berjudul Salah Urus Dalam Pengelolaan SDA Dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan dan Kemandirian Bangsa , beliau adalah pengamat perminyakan Indonesia ia mengatakan bahwa generasi muda perlu mengetahui bagaimana sumber kekayaan alam nasional selama ini dikelola. Beberapa landasan pertanyaan yang dibahas Apakah Sudah Sesuai Dengan Konstitusi ? Apakah Sudah Effisien Secara Ekonomi ? Apakah Sudah Menguntungkan Rakyat ?Apakah Tidak Akan Menjadi Beban Generasi Yang Akan Datang ? Perhitungan diatas kertas, Indonesia tidak mungkin menjadi negara dengan jumlah penduduk miskin sejumlah 39.050.000 jiwa karena memiliki potensi sumber daya alam yang sedemikian kaya. Peraturan-peraturan yang dirancang membawa kerugian jangka panjang bagi rakyat Indonesia. Secara pribadi dengan melihat semangat Bapak Kurtubi dalam menyampaikan apa yang ia katakan sebuah kebenaran, maka

Hendri Saparini, Ph.D mengenai Dampak Pengelolaan SDA Yang Amburadul Pada Kemiskinan dan Kemandirian Bangsa serta Refrisond Baswir. Mereka banyak Mengungkapkan permasalahan-permasalahan kebangsaan, pemahaman-pemahaman mengenai sejarah bangsa Indonesia terkait bidang perekonomian dan pengelolaan SDA.kurang lebih garis besarnya adalah pengelolaan Sumber daya alam Indonesia yang tidak tepat, banyak terjadi pelanggaran yang telah berlangsung secara turun temurun.

Setelah itu sampai pada malam hari, kelompok berdikusi dan merumuskan makalah berdasarkan gabungan makalah teman-teman yang lain, diskusi dilanjutkan hingga pukul 3 pagi. Dalam diskusi tersebut, banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari teman-teman Karena malam tersebut adalah malam terakhir dan besok paginya, kelompok harus mempresentasikan hasil diskusinya. Beberapa evaluasi yang saya dapat berikan adalah waktu diskusi yang terlalu singkat. Ini menyebabkan kurang maksimal tukar informasi yang dapat kami lakukan. Selalu terburu waktu dan jadwal kegiatan lain yang harus dilakukan. Namun lebih dari itu dari waktu-waktu yang sangat singkat tersebut.

Berikut disertakan sepenggal hasil diskusi terkait pendidikan multikulturalisme berbicara mengenai pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa wadah sebenarnya dari proses pendidikan adalah keluarga dan sekolah formal. Mengapa dikatakan demikian, karena sekolah formal adalah tempat di mana anak-anak berinteraksi secara intens sejak dini. Di tempat inilah tatanan nilai terinternalisasi oleh anak, termasuk mindset multikultural. Karena mindset diperoleh sejak dini, maka teranglah bahwa peran sekolah sangat besar dalam melakukan pendidikan multikulturalisme.

Dalam mendukung pemahaman multikultural, idealnya setting sekolah sendiri sudah mengampanyekan multikultural, dengan menampung siswa dari berbagai macam etnis yang berbeda. Walaupun begitu, tidak dapat pula dinafikan sekolah-sekolah yang identitas etnis / agamanya kental, karena sekolah itu sendiri sudah menjadi bagian dari budaya yang ada. Dalam menghadapi sekolah-sekolah dengan ciri seperti ini, tetap dapat diterapkan pemahaman multikultural dengan cara-cara tertentu.

Pendidikan multikultural hendaknya dimasukan pada kurikulum sekolah yang sifatnya kokurikuler dan hiden curriculum (kurikulum yang tak tertulis dan terencana tetapi proses internalisasi nilai, pengetahuan, dan keterampilan justru terjadi di kalangan peserta didik), dikarenakan kalau dimasukkan sebagai kurikulum resmi atau tambahan mata pelajaran baru tentu akan menambah beban berat bagi guru maupun siswa.

Pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan cara mensetting sekolah sebagai miniatur dari kehidupan masyarakat sebenarnya. Di sekolah tersebut terdiri dari siswa maupun guru yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, etnik, agama maupun kelas sosial dikarenakan prinsip pembelajaran yang tepat yaitu learning by doing dimana siswa dapat belajar secara langsung dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan tentang keberagaman, yang diharapkan pemahaman akan multikulturalisme dapat terbentuk dan siswa mampu mengaplikasikannya.

Untuk kelas yang beragam latar belakang budaya siswanya, maka gaya mengajar guru yang paling tepat digunakan yaitu gaya demokratis (Donna Styles, 2004 : 3). Melalaui pendekatan demokrasi ini, para guru dapat menggunakan beragam strategi pembelajaran, seperti dialog, simulasi, bermain peran, observasi, dan penanganan kasus (Abdullah Aly dalam Maula, 2006). Melalui dialog para guru, misalnya mendiskusikan bahwa semua orang dari budaya apapun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. Sementara itu, melalui simulasi dan bermain peran, para siswa difasilitasi untuk memerankan diri sebagai orang-orang yang memiliki agama, budaya, dan etnik tertentu dalam pergaulan sehari-hari. Dalam moment-momen tertentu, diadakan proyek dan kepanitiaan bersama, dengan melibatkan aneka macam siswa dari berbagai agama, etnik, budaya, dan bahasa yang beragam. Sedangkan mealalui observasi dan penanganan kasus, siswa dan guru difasilitasi untuk tinggal beberapa hari di masyarakat multikultur. Mereka diminta untuk mengamati proses sosial yang terjadi diantara individu dan kelompok yang ada, sekaligus untuk melakukan mediasi bila ada konflik diantara mereka.

Pendidikan multikultural hendaknya marevisi buku-buku pelajaran yang mendeskriminasi kaum minoritas dan hendaknya materi pelajaran dilihat dari berbagai sudut pandang sehingga tidak terjadi bias. Jadi, guru perlu menelaah secara kritis tentang materi dan bahan ajar yang akan disampaikan dalam setiap proses pembelajaran.

Selain itu, maksimalitas fungsi perpustakaan yang selama ini sebagai tempat baca dan memperoleh bahan-bahan tinjauan pustaka juga sangat strategis dalam peningkatan pemahaman multikulturalisme. Lebih khusus pada anak-anak yang lebih tertarik dengan komunikasi dengan stimulus visual. Buku-buku dengan desain visualisasi menarik yang memperkenalkan dan menceritakan kekayaan budaya bangsa yang begitu beragam sebagai bagian dari pribadinya sendiri. Buku adalah jendela dunia. Melalui bacaan, seseorang dapat pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi, mengenali sesuatu yang belum ia ketahui sebelumnya.

Sebagai permasalahan kebangsaan, hendaknya pemahaman multikulturalisme ini tidak saja hanya dibebankan kepada pemerintah. Sepatutnya seluruh civitas bangsa merasa bertanggung jawab dan turut serta dalam hal ini. Seperti telah diungkap dalam pemaparan awal, keluarga dan sekolah formal merupakan basis fundamental pendidikan. Keluarga sebagai institusi terkecil dari bangsa, hendaknya menyadari perannya yang sedemikian signifikan. Setiap anggota perlu memahami peran sosial yang melekat secara humanistik ketika dilabelkan status tertentu. Misalnya orang tua berperan menanamkan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan prinsip keyakinan yang dipercayai. Sejak dalam keluarga dengan usia sedini mungkin, anak diajarkan untuk tidak membeda-bedakan orang lain yang “berbeda” dari dirinya, pemahaman akan toleransi dan saling menghargai sebagai sesama manusia.

Day 3 Kemudian pada hari terakhir kedua kelompok mempresentasikan makalah masing-masing dilanjutkan dengan diskusi Tanya jawab antar kelompok. Telah tersusuh dua buah makalah kelompok yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan DIKTI dalam mengambil keputusan ataupun menetapkan kebijakan terkait bidang pendidikan Indonesia. Kurang lebih pada jam 13.00 kegiatan ditutup dan peserta mengurus administrasi penggantian uang tiket. namun kebersamaan kami tidak berhenti, kami sempatkan untuk berjalan-jalan karena lokasi hotel tidak jauh dari tempat-tempat wisata, dan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerah masing-masing. Pengalaman yang amat sangat singkat namun memberikan kesan yang mendalam. Dapat membangun forum komunikasi antar mahasiswa seluruh Indonesia.

Selanjutnya, kami para peserta dialog kebangsaan punya komitmen untuk terus berhubungan dengan membuat sebuah blog, bersama-sama bergerak untuk memajukan Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s