Pendidikan Multikulturalisme

Pendidikan Multikulturalisme

Merly Aclin Nuasizta Klaas[1]

I Latar Belakang

Multikulturalisme. Tergambar dengan jelas di kepala saya ketika mendengar kata tersebut adalah bendera merah putih milik Negara kesatuan Republik Indonesia. Salah satu negara yang dapat langsung diasosiasikan dengan istilah tersebut. Multikulturalisme, sebuah kata yang dapat memunculkan banyak interpretasi dan asosiasi yang dapat dipadankan. Hal ini dapat kita maknai sebagai 1. Keajaiban dan kebesaran Tuhan yang menciptakan menusia dengan berbagai karakteristik dan keunikan masing-masing ciptaannya. Tidak ada satu manusia pun yang persis sama fisik dan karakternya di dunia ini. 2. Ada jutaan orang diluar sana yang “berbeda” dengan yang dinamakan diri sendiri. Perbedaan dapat memperat bahkan menceraikan sebuah kesatuan yang telah terbentuk.

Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Menurut Parsudi Suparlan (2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri dibangun dalam beragam berbedaan suku dan bahasa. Yang menjadikan negara ini kaya akan kebudayaan dan punya karakteristik dibandingkan negara-negara lain. Indonesia dikenal luas sebagai bangsa yang terdiri dari 3000 suku bangsa, yang masing-masing mempunyai identitas kebudayaan sendiri, (diakui) dan mempunyai daerah teritorial.[2]

Namun yang terjadi sekarang adalah degradasi akan rasa kebangsaan dan kebanggaan itu sendiri. Perbedaan yang dahulu menjadi kekayaan, sekarang malah ditengarai menjadi faktor pemicu beberapa konflik bernuansa sara di negara tercinta ini . Perbedaan yang ada benar-benar membuat kita merasa menjadi bagian yang terpisah satu dengan yang lainnya. dari banyak studi menyebutkan salah satu penyebab utama dari konflik ini adalah akibat lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Terdapat berbagai konsep multikulturalisme dari bermacam perspektif [3]yaitu :

1. Pada hampir sebagian negara berkembang, multikulturalisme merupakan konsep social yang diintroduksikan kedalam pemerintahan agar pemerintahan dapet menjadikannya sebagai kebijakan pemerintah

2. Dikaitkan dengan pendidikan multikultural (multicultural education), multikuturalisme merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keragaman latar kebudayaan dari peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural.

3. Multikultural sebagai sebuah ideologi dapat dikatakan sebagai gagasan bertukar pengetahuan dan keyakinan yang dilakukan melalui pertukaran budaya atau perilaku budaya setiap hari.

Untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, jalur mana yang paling masuk akal dan dapat kita lewati dalam mengatasi degradasi pemahaman multikultural yang terkait keutuhan NKRI? Sebagai yang dikatakan kaum Intelektual, kita dapat masuk melalui ranah Pendidikan. Karena melalui ini, kaum-kaum termuda sekalipun dapat dijangkau. Kelak yang akan menjadi pemimpin-pemimpin dan warga negara yang akan bertanggung jawab atas keutuhan NKRI.

II. Perumusan Masalah

Kebijakan Pendidikan yang seperti apa yang dapat diambil agar dapat mengatasi degradasi pemahaman Multikulturalisme NKRI?

III. Tujuan Penelitian

Memperoleh sebuah rumusan alternative solusi yang dapat dilakukan demi meningkatkan pemahaman multikulturalisme terkait dengan keutuhan NKRI khususnya melalui bidang pendidikan

IV. Manfaat Penelitian

Diperoleh sebuah rumusan solusi alternatif yang dapat dilakukan demi meningkatkan pemahaman multikulturalisme terkait dengan keutuhan NKRI khususnya melalui bidang pendidikan

V. Mengembangkan Pemahaman Multukulturalisme melalui Pedidikan

Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar (2004) pernah mengatakan pentingnya pendidikan multikulturalisme di Indonesia. Menurutnya, pendidikan multikulturalisme perlu ditumbuhkembangkan, karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi, dan lingkungan geografi serta demografis sangat luar biasa. Baik itu pendidikan formal maupun non-formal, jalur pendidikan mempunyai peran besar untuk mengatasi hal ini.[4]

Pendidikan dalam keluarga juga harus terus dimaksimalkan. Orang tua dan masyarakat juga turut bertanggung jawab atas pemahaman anak yang positif dan benar mengenai multikulturalisme ini. Seringkali keluarga yang justru memberikan pemahaman yang salah pada anak. Misalnya dengan melarang anak bergaul dengan orang-orang dari suku bangsa tertentu dengan alasan orang-orang yang berasal dari suku tersebut mempunyai track record yang kurang baik. Misalnya teman-temannya dari kawasan Indonesia timur adalah anak-anak yang sering membuat masalah, tidak dapat mengontrol diri, suka meminum minuman keras sehingga sedapatnya tidak usah bergaul dengan orang-orang dari kawasan Indonesia timur. Jika yang terjadi seperti ini, maka dari kecil anak telah dididik untuk membeda-bedakan dalam berinteraksi dengan orang lain (diskriminasi)

Jalur ini dapat dimasuki untuk menjangkau orang dari berbagai golongan umur. Sejak masih dibangku Taman kanak-kanak yang peserta didiknya adalah anak-anak berusia 5-7 tahun sampai pada jenjang pendidikan program Pasca sarjana yang identik dengan orang-orang yang berintelektual tinggi.

Penanaman pemahaman multikultural sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin. Sehingga terus akan terkonstruksi dalam kognisi anak rasa kepemilikan dan kebanggaan akan budaya bangsa hinggi ketika ia dewasa nanti. Menurut pengalaman dan obseravasi yang saya lakukan, untuk menanamkan kecintaan budaya lokal miliknya sendiri cukup sulit. Telah ada mata pelajaran Muatan Lokal yang memuat cerita-cerita rakyat daerah setempat, namun dirasakan juga kurang efektif untuk menanamkan cinta budaya sendiri. Apalagi jika harus mempelajari dan mencintai budaya luar daerahnya yang tidak terlalu familiar bagi peserta didik.

Pengemasan dalam penyampaian informasi turut berperan penting dalam keberhasilan transfer pemahaman ini.

Solusi alternatif :

1. Pemberlakuan kurikulum tentang kebudayaan NKRI sejak bangku sekolah dasar.

Telah dibahas diatas bahwa sedini mungkin anak ditanamkan rasa bangga dan cinta akan tanah air. Tidak hanya mempelajari budaya lokalnya tetapi juga budaya Indonesia secara keseluruhan. Anak tidak hanya diminta menghafalkan Propinsi serta Ibukota propinsinya juga tetapi dikemas dengan cara menarik misalnya pengenalan akan baju adat, tarian dan lagu masing-masing daerah dari seluruh Indonesia dapat dilakukan melaui festival-festival 17 agustusan. Minimal anak mempunyai pemahaman bahwa budaya tersebut juga adalah bagian dari dirinya sendiri.

2. Memaksimalkan fungsi Perpustakaan sebagai tempat untuk memperkaya diri dengan pengetahuan yang seluas-luasnya. Penyediaan buku-buku dan sarana belajar yang dapat memperkenalkan budaya seluruh Indonesia kepada peserta didik. Anggapan bahwa ada budaya yang lebih diatas dari budaya yang lainnya, akan menimbulkan rasa lebih penting dari pada yang lain. Hal ini merupakan benih hilangnya rasa kepemilikan dan cinta akan kebudayaan NKRI utuh yang berasal dari seluruh daerah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

3. Pendidikan keluarga mengenai kebudayaan yang lengkap bagi anak. Keluarga sedini mungkin memperkenalkan anak akan kebudayaan Indonesia dengan berbagai cara misalnya mengajak anak mengunjungi tempat wisata budaya local.

4. Bagi mahasiswa terus berusaha mengungkap kekayaan budaya bangsa Indonesia. Dinas Pendidikan dapat membuat kompetisi karya tulis ilmiah bagi mahasiswa dengan tema Kebudayaan Indonesia. Masih banyak budaya Indonesia yang belum dikenal luas karena kurangnya penulis-penulis muda yang membuat tulisan mengenai budaya bangsa Indonesia sendiri.

Titik awal dalam mengupayakan pemahaman multikulturalisme Indonesia yang positif akan dimulai ketika ada rasa kepemilikan akan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dan cinta akan tanah air demi terjaganya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


[1] Mahasiswi S1 Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

[2] Liliweri, Alo.2005.”Prasangka dan Konflik :Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur”.LKiS Pelangi Aksara.Yogyakarta.Hal:6

[3] Liliweri, Alo.2005.”Prasangka dan Konflik :Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur”.LKiS Pelangi Aksara.Yogyakarta.Hal:68-69

[4] pustakawan.pnri.go.id

Advertisements

4 thoughts on “Pendidikan Multikulturalisme

  1. Lalu adakah hubungan antara Multikulturalisme dengan Nasionalisme…???
    Ada…!!!

    Itulah sebenarnya semangat dari ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia.
    Multikultural berbicara tentang keanekaragaman budaya Indonesia ini.
    Nasionalisme berbicara tentang bagaimana menyatukan berbagai banyaknya budaya yang ada (dengan begitu banyaknya persinggungan yang terjadi) untuk menjadi satu kesatuan (tetapi tidak menghilangkan ciri dari budaya lokal).
    Lebih mudahnya, Nasionalisme adalah rumah untuk multikultur itu sendiri.

    Anggaplah masing-masing budaya adalah anak-anak dengan berbagai pola pikir dan sifat-sifat yang berbeda. Anak yang satu bisa jadi berbeda pendapat dengan anak yang lain.
    Bisa jadi anak tersebut akan berkelahi dengan anak yang lainnya karena perbedaan pendapat yang sepertinya tidak bisa disatukan. Trus penyelesaiannya? Harus ada orang tua, (misalnya Ayah) yang menjadi pelerai atau bahkan menasehati mereka dan memberi jalan tengah untuk menyatukan perbedaan pendapat mereka.
    Dan ayah itu adalah Nasionalisme.

    Indonesia adalah sebuah keluarga besar dimana multikultur adalah anaknya dan nasionalisme adalah orang tuanya.
    Mungkin saat salah satu anak pergi ingin membentuk keluarga sendiri hal itu tentu tidak akan berpengaruh besar bagi keluarga yang ditinggalkannya (anggaplah Timor Timur yang sudah menjadi negeri sendiri, dan Indonesia masih tetap ada)
    Jika semua anak-anaknya pergi maka tinggal si orang tua sendirian menanti ajal.
    Tetapi jika orang tuanya yang pergi maka tercerai berailah anak-anaknya karena tidak ada yang menjaga mereka. Anak-anak tersebut akan menjadi yatim piatu yang kehilangan arah dan tujuan karena tidak ada yang membimbing mereka.
    Dan sebenarnya Indonesia sekarang adalah sebuah keluarga yang kehilangan orang tuanya. Indonesia kehilangan semangat Nasionalismenya.
    Indonesia sekarang adalah sebuah keluarga dimana ada seorang anaknya yang paling besar dan kuat berusaha memimpin anak-anak lainnya dan cenderung bersifat absolut. Anak-anak yang merasa tertindas akan melawan dan akhirnya keluarga itu pecah.

    Indonesia harusnya belajar dari Ayahnya dulu yaitu Majapahit.
    Majapahit adalah bentuk bangsa multikultural di Nusantara yang sangat besar bahkan lebih besar dari Indonesia sekarang.
    Pada jaman itu semua perbedaan begitu dihormati. Orang Budha bisa bersama-sama dengan orang Hindhu membangun Candi Hindhu atau sebaliknya.
    Ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia adalah warisan dari mereka.
    Andai saja pada masa itu semua budaya selain budaya mayor ditindas dan hanya budaya mayor yang berkuasa tentu kita tidak akan melihat warisan budaya dari mereka seperti yang ada sekarang tetapi tinggal warisan budaya mayor itu sendiri.
    Memang tidak bisa dipungkiri Majapahit pecah karena anak-anaknya juga lebih memilih berdiri sendiri-sendiri. Dan harusnya Indonesia belajar dari kesalahan Ayah mereka, bukannya mengulangi atau malah memperburuk.

    Sifat kedaerahan memang tidak bisa dihilangkan karena itu sudah tertanam dalam diri kita masing-masing bahkan semenjak kecil. Tentu saja, sebuah keluarga Jawa tidak mungkin mengajarkan budaya Batak pada anaknya. Tetapi keluarga Jawa itu selain mengajarkan budayanya juga harus menanamkan nilai-nilai Nasionalis bagi anak-anaknya.
    Seorang anak tidak mungkin bisa tahu dan mengerti tentang begitu banyaknya budaya di Indonesia. Tapi seorang anak bisa memiliki jiwa nasionalis yang akan membawanya pada sikap menghargai dan toleran terhadap banyaknya budaya di sekitarnya.
    Nilai nasionalis inilah yang harusnya ditanamkan pada anak-anak Indonesia sejak dini.
    Tapi sekarang pertanyaannya: Kapan???

    Sekarang,
    bapak-bapak dan ibu-ibu Penguasa bertengkar karena keegoisan mereka.
    Biarkan saja,
    toh nanti mereka juga capek atau mati sendiri.
    Sekarang adalah waktunya kita menggantikan mereka.
    Bawa jiwa-jiwa nasionalis,
    gandengkan tangan satukan hati
    Karena kita akan menjadi Orang Tua bagi bangsa Indonesia ini.

    —————-
    Numpang bagi Ide ya…:)

  2. (Pemberlakuan kurikulum tentang kebudayaan NKRI sejak bangku sekolah dasar.

    Telah dibahas diatas bahwa sedini mungkin anak ditanamkan rasa bangga dan cinta akan tanah air. Tidak hanya mempelajari budaya lokalnya tetapi juga budaya Indonesia secara keseluruhan).

    apakah ada budaya indonesia secara keseluruhan ??? budaya INA secara keseluruhan itu yang bagaimana???

    LUX est SCIENTIA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s