PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME

Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar (2004) pernah mengatakan pentingnya pendidikan multikulturalisme di Indonesia. Menurutnya, pendidikan multikulturalisme perlu ditumbuhkembangkan, karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi, dan lingkungan geografi serta demografis sangat luar biasa. Baik itu pendidikan formal maupun non-formal, jalur pendidikan mempunyai peran besar untuk mengatasi hal ini.[1]

Pendidikan dalam keluarga juga harus terus dimaksimalkan. Orang tua dan masyarakat juga turut bertanggung jawab atas pemahaman anak yang positif dan benar mengenai multikulturalisme ini. Seringkali keluarga yang justru memberikan pemahaman yang salah pada anak. Misalnya dengan melarang anak bergaul dengan orang-orang dari suku bangsa tertentu dengan alasan orang-orang yang berasal dari suku tersebut mempunyai track record yang kurang baik. Misalnya teman-temannya dari kawasan Indonesia timur adalah anak-anak yang sering membuat masalah, tidak dapat mengontrol diri, suka meminum minuman keras sehingga sedapatnya tidak usah bergaul dengan orang-orang dari kawasan Indonesia timur. Jika yang terjadi seperti ini, maka dari kecil anak telah dididik untuk membeda-bedakan dalam berinteraksi dengan orang lain (diskriminasi)

Jalur ini dapat dimasuki untuk menjangkau orang dari berbagai golongan umur. Sejak masih dibangku Taman kanak-kanak yang peserta didiknya adalah anak-anak berusia 5-7 tahun sampai pada jenjang pendidikan program Pasca sarjana yang identik dengan orang-orang yang berintelektual tinggi.

Penanaman pemahaman multikultural sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin. Sehingga terus akan terkonstruksi dalam kognisi anak rasa kepemilikan dan kebanggaan akan budaya bangsa hinggi ketika ia dewasa nanti. Menurut pengalaman dan obseravasi yang saya lakukan, untuk menanamkan kecintaan budaya lokal miliknya sendiri cukup sulit. Telah ada mata pelajaran Muatan Lokal yang memuat cerita-cerita rakyat daerah setempat, namun dirasakan juga kurang efektif untuk menanamkan cinta budaya sendiri. Apalagi jika harus mempelajari dan mencintai budaya luar daerahnya yang tidak terlalu familiar bagi peserta didik.

Pengemasan dalam penyampaian informasi turut berperan penting dalam keberhasilan transfer pemahaman ini.

Solusi alternatif :

1. Pemberlakuan kurikulum tentang kebudayaan NKRI sejak bangku sekolah dasar.

Telah dibahas diatas bahwa sedini mungkin anak ditanamkan rasa bangga dan cinta akan tanah air. Tidak hanya mempelajari budaya lokalnya tetapi juga budaya Indonesia secara keseluruhan. Anak tidak hanya diminta menghafalkan Propinsi serta Ibukota propinsinya juga tetapi dikemas dengan cara menarik misalnya pengenalan akan baju adat, tarian dan lagu masing-masing daerah dari seluruh Indonesia dapat dilakukan melaui festival-festival 17 agustusan. Minimal anak mempunyai pemahaman bahwa budaya tersebut juga adalah bagian dari dirinya sendiri.

2. Memaksimalkan fungsi Perpustakaan sebagai tempat untuk memperkaya diri dengan pengetahuan yang seluas-luasnya. Penyediaan buku-buku dan sarana belajar yang dapat memperkenalkan budaya seluruh Indonesia kepada peserta didik. Anggapan bahwa ada budaya yang lebih diatas dari budaya yang lainnya, akan menimbulkan rasa lebih penting dari pada yang lain. Hal ini merupakan benih hilangnya rasa kepemilikan dan cinta akan kebudayaan NKRI utuh yang berasal dari seluruh daerah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

3. Pendidikan keluarga mengenai kebudayaan yang lengkap bagi anak. Keluarga sedini mungkin memperkenalkan anak akan kebudayaan Indonesia dengan berbagai cara misalnya mengajak anak mengunjungi tempat wisata budaya local.

4. Bagi mahasiswa terus berusaha mengungkap kekayaan budaya bangsa Indonesia. Dinas Pendidikan dapat membuat kompetisi karya tulis ilmiah bagi mahasiswa dengan tema Kebudayaan Indonesia. Masih banyak budaya Indonesia yang belum dikenal luas karena kurangnya penulis-penulis muda yang membuat tulisan mengenai budaya bangsa Indonesia sendiri.

Titik awal dalam mengupayakan pemahaman multikulturalisme Indonesia yang positif akan dimulai ketika ada rasa kepemilikan akan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dan cinta akan tanah air demi terjaganya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


[1] pustakawan.pnri.go.id

Advertisements

2 thoughts on “PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME

  1. Tulisan pemancing diskusi yang bagus Mey.. Memang pendidikan multikultularisme sudah saatnya digencarkan untuk melawan inklusivisme terutama suku dan agama yang sudah mulai menguat. Bukan saja dalam rangka menjaga NKRi tetapi lebih dari itu yaitu untuk proses memperkuat praktek kehidupan yang demokratis yaitu bentuk relasi kehidupan yang menembus batas-batas perbedaan untuk mewujudkan nilai2 kesetaraan. Salut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s