malam itu saya berbicara dengan seekor ngengat.
Ia sedang berusaha masuk ke dalam sebuah bohlam lampu yang menyala
dan membakar dirinya sendiri di kawat listrik lampu tersebut.
"mengapa kalian melakukan aksi akrobat ini?" tanya saya kepadanya.
Karena ini adalah hal yang konvesional bagi para ngengat? atau coba saja,
jika itu ternyata merupakan sebuah lilin yang tak tertutup, bukan sebuah bohlam lampu,
Kamu sekarang bisa-bisa menjadi abu yang kecil dan tak terlihat.
apakah kamu tidak punya akal sehat?"
"Banyak," jawabnya," tapi kadang kami meresa lelah dan bosan dengan rutinitas
dan mendambakan keindahan dan kegembiraan.
api itu indah dan kami tahu jika kami terlalu dekat dengan api itu akan
membunuh kami,
Tapi apa gunanya?
Lebih baik merasa senang sessat dan terbakar ditengah keindahan
ketimbang hidup untuk waktu yang panjang dan bosan yang terus menerus.
jadi kami menggulung seluruh hidup kami ke dalam satu gumpalan kecil,
dan kemudian kami menembak gulungan tersebut.
itulah kegunaan hidup.
lebih baik menjadi bagian dari keindahan selama satu waktu yang singkat
Dan kemudian berhenti hidup.
ketimbang ada selamanya dan tidak pernah menjadi bagian dari keindahan.
sikap kami menghadapi hidup adalah
datang dengan santai, pergi dengan santai.
kami seperti manusia dahulu sebelum mereka menjadi terlalu beradab
untuk menikmati dunia mereka sendiri."
dan sebelum saya bisa membantah filosofinya,
Ia pergi dan mengorbankan dirinya sendiri disebuah pemantik api rokok
yang tengah menyala.
saya tidak setuju dengannya.
saya sendiri, akan lebih memilih untuk memiliki separuh kebahagiaan
dan dua kali lipat umur panjang.
namun di saat yang sama,
saya berharap ada sesuatu yang saya inginkan
sebesar keinginananya untuk menghanguskan dirinya sendiri.
June 25, 2008...10:51 pm
Pelajaran dari seekor Ngengat
Jump to Comments
1 Comment
July 30, 2008 at 4:48 am
kepingin bertemu dengan ngengat itu…